Lluvia

I'm not the jealous type, but what's mine is mine.

hay honey, I know you’ll always watching me. I know that’s the way you miss me. and this is the way I enjoy my feeling, I’m missing you too. I don’t know why but I continuously think, how sweet we are :”)

and I wake myself up, I make myself close to you. the clock ticks and tocks, I hope that I’m meant for you.

Saya kangen. Klise. Saya bisa aja isi pulsa, aktifin bbm. Oke, atau setidaknya sms. Tapi ga segampang itu. Kalo ada pulsa tuh gatellllll banget. Kadang ngelakuin hal yang ga penting. Jadi? Ya inilah saya sekarang, Mareta; tertinggal dunia. Bisa aja saya online y!m, tapi saya lebih milih bergumul sama rasa kangen ini. Bisa aja saya buka twitter, tapi begitu banyak hal seharusnya ga saya liat disana. Jadi inilah saya sekarang, Mareta; merasakan rindu tanpa berbuat suatu hal yang mungkin berarti untuk mengobatinya. (Gila kaleee bahasa gue :p)

natiqoh:

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”. 

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.”

“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

Sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di Indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia seperti ini.

(via litahartalita)

MasRur : Mbak, tadi aya nu mirip pisan sama kamu. Saha? Ibu?
Mamet : Hah? Iya Mas.
MasRur : oh sugan teh laceuk Mbak, mirip pisan hahahahahahaha *ketawa kaya setan -..-*

Something wrong with my eyes.